Arti ‘Cicak’ Dalam Suku Batak | Akurat - Faktual - Elegan Moltoday.com

BPI KPNPA RI

loading...

Arti ‘Cicak’ Dalam Suku Batak

Redaksi author photo


MEDAN (MOLTODAY) - Horas dongan, kali ini saya menulisnya via medium dulu ya, istirahat dulu sama blogspotnya, hehe. tapi tetap kok temanya masih seputar Batak dan Batak. Tapi nanti tetap dishare via blogspot kok, jadi tenang aja. Intinya setiap kalian baca, jangan lupa share agar dongans yang lain bisa mendapat info baru. Jadi, buat para dongan yang sebagian belum tau tentang simbol batak, pernah akka dongan berkunjung ke rumah tradisional Batak atau melihat diinternet rumah batak atau juga disebut Ruma Bolon? Kalau kalian pernah melihat secara teliti Ruma Bolon, mungkin saat memperhatikannya kalian pasti akan menemukan ciri khas berupa dinding yang kaya ukiran. iya kan?
Perlu diketahui buat akka dongans bahwa pergaulan bangso Batak selalu dilatarbelakangi oleh filosofi. Leluhur bangso batak yang meyakini cicak atau yang disebut dengan boraspati sebagai simbol kebijaksanaan dan kekayaan bagi generasinya.

Selain sebagai dekorasi, gorga memiliki nilai filosofi bagi suku Batak. Salah satunya adalah ukiran cicak atau disebut juga dengan ‘gorga boraspati’ yang merupakan simbol kebijaksanaan dan kekayaan.

Kalau kita perhatikan tiap ukiran cicak selalu menghadap ukiran 4 payudara (adop-adop) dimana setiap adop-adop mempunyai artinya masing-masing. Adop-adop yang pertama sebagai simbol kesucian, adop-adop yang kedua sebagai simbol kesetiaan. Adop-adop yang ketiga sebagai simbol kesejahteraan, serta adop-adop yang keempat sebagai simbol kesuburan wanita.

Munculnya filosofi tersebut bermula dari pengamatan leluhur masyarakat Suku Batak terhadap pola hidup cicak byang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Cicak bisa hidup di lantai, di dinding, di lorong, di atap dan di mana saja. Dalam cengkeraman kucing pun, cicak bisa meloloskan diri dengan melepas umpan ekor pengelabu.

Leluhur bangso Batak berharap generasi penerusnya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya di manapun ia berada. Seperti kita ketahui, bangso Batak kebanyakan merantau ke daerah lain. Maka diharapkan di daerah perantauannya bangso Batak harus dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dengan masyarakat setempat. Sehingga akan tetap bertahan, bagaimana pun situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Filosofi itu juga yang diterapkan dalam pergaulan masyarakat Suku Batak. Harus dapat bergaul dengan siapa saja dan menyikapi dengan bijak perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu lingkungan, sehingga pada akhirnya bisa hidup di mana saja.

Hal tersebut terbukti dengan kekerabatan bangso Batak yang masih sangat kuat sampai saat ini. Ketika orang Batak baru pertama kali berkenalan satu dengan yang lainnya, maka yang akan dicari terlebih dahulu adalah hubungan kekerabatan di antara mereka, benar ga dongans??

Selain itu, bagi bangso Batak yang mata pencahariannya adalah bertani, kemunculan cicak di lahan pertanian ladang dan sawah diyakini sebagai pertanda tanaman akan tumbuh subur. Semakin sering cicak muncul, tanaman semakin subur, sehingga dapat dipanen dengan hasil yang memuaskan.

nah, sudah tau kan dongans, filosofi cicak selalu melekat dengan jiwa orang batak?? jadi, buat akka dongan, jangan takut merantau, apalagi kalau didaerah itu tidak ada sanak saudara, ingat saja sama cicak, hehe…

Penulis : M Simanjuntak
arthmann.blogspot.com
Sep 27, 2016


Komentar Anda

Berita Terkini