Hari Anti Narkotik Internasional, "1400 Jalur Tikus Penyeludupan Narkoba di suatu Provinsi" | Akurat - Faktual - Elegan Moltoday.com

BPI KPNPA RI

loading...

Hari Anti Narkotik Internasional, "1400 Jalur Tikus Penyeludupan Narkoba di suatu Provinsi"

Redaksi author photo


MOLTODAY, Deli Serdang - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara bersama masyarakat dan komunitas penggiat anti narkoba mengadakan acara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2018, Kamis pagi (12/7/2018) di Lapangan Loka Rehabilitasi Deli Serdang Sumatera Utara Komp. Pemda Deli Serdang, Perbarakan, Pagar Merbau Kabupaten Deli Sedang.

HANI 2018 Sumatera Utara di serentak secara Nasional dari berbagai daerah. Acara serentak tersambung melalui Teleconfrence dalam sambutannya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto mengatakan, Narkoba menjadi ancaman serius bagi bangsa, ada 1400 jalur tikus penyeludupan narkoba.

Kita melakukan pekerjaan dan pemberantasan narkoba di seluruh wilayah tanah air tanpa terkecuali. Kami sangat mendukung dan akan mendorong rencana tersebut, agar dapat segera diterapkan.

Selain itu saya mendapat laporan bahwa BNN telah menginisiasi program alternatif development 2016-2025 di tiga Kabupaten yakni: Aceh Besar, Biren, dan Gayo Luwes di provinsi NAD. Diharapkan ini didukung oleh semua pihak. Sebagai bentuk komitmen kita membangun Indonesia dari pinggiran, wilayah yang paling rentan sebagai sumber peredaran narkoba. Indonesia yang area perbatasannya terpanjang kedua di dunia yakni 9000 Km.

"Saya menanyakan salah satu gubernur yang punya perbatasan dengan negara lain yakni gubernur Kalimantan Utara. Apakah masih ada jalur tikus untuk hal semacam penyeludupan narkotika, terorisme, dan sebagainya data yang ada, ada 1400 jalan tikus satu provinsi", sebut Wiranto

Tentunya kita harus bersyukur dengan tema pada tahun 2018 Menyatukan dan Menggerakkan Kekuatan Bangsa dalam Melawan Perang, melawan Narkoba, untuk Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Sehat Tanpa Narkoba. Kalau hal itu dapat kita lakukan bersama, maka saya yakin suatu saat kita dapat tercatat bawa Indonesia bebas narkoba. Harapan kita seperti itu", sebutnya.

Hadirin sekalian, pada kesempatan ini saya atas nama Pemerintah pesan Presiden Republik Indonesia mengucapakan terimaksih atas upaya BNN, Kepolisian, dan pihak pihak terkait yang telah melakukan langkah serius dan tegas, untuk menyelamatkan anak bangsa. Kepada seluruh Kementerian dan Lembaga terkait serta semua masyarakat, saya instruksikan untuk bersama dengan BNN untuk mengurangi ancaman narkoba secara bersungguh sungguh,” kata Menko Polhukam Wiranto dalam acara puncak peringatan Hari Narkotika Internasional

Dalam kesempatan itu, Menko Polhukam menyatakan bahwa kejahatan narkotika yang sangat berbahaya dan dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa harus diberantas dan ditangani, dengan pendekatan seimbang antara pengurangan pasokan (supply) dengan membongkar jaringan produsen, bandar dan pengedar, serta pengurangan permintaan (demand) dengan menambah fasilitas rehabilitasi pecandu narkotika dan edukasi terus menerus kepada masyarakat.

Kepala BNN P Sumut, Brigjend. Pol. Marsauli Siregar, kepada wartawan menyebutkan Sumatera Utara menempati urutan ke dua deerah yang paling tinggi peredaran Narkoba di Indonesia.

"Dari hasil penelitian Universitas Indonesia dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2017, Provinsi Sumatera Utara menempati urutan kedua sebagai daerah yang tinggi dalam penggunaan Narkobanya. Tercatat sebanyak 260.000 orang peduduk berusia 10 hingga 60 tahun merupakan pecandu Narkoba", sebut Kepala BNN P Sumut.

Tingginya tingkat perderan ini dikatakan Marsauli dipengaruhi oleh mudahnya akses jalur masuk Narkoba dari pantai Timur Sumatera yakni dari Aceh hingga perbatasan Riau serta tingkat daya beli masyarakatnya yang tinggi membuat menjamurnya Narkoba di Sumatera Utara.

"Sejak Zaman dulu, jalur pantai Timur di Sumut sudah digunakan untuk mengedarkan Narkoba. Dan kenapa Narkoba masih banyak beredar di Sumut. Ya itu karena selain tingkat demografi yang tinggi juga masyarakatnya memiliki daya beli cukup bagus", sebut Marsauli.

Marsauli Siregar juga mengungkapkan narkoba masih menjadi ancaman serius bagi setiap orang khus.***(Ams)
Komentar Anda

Berita Terkini